Ketahanan pangan kampung gedung karya jitu

 Menindaklanjuti program astacita presiden prabowo terkait program ketahanan pangan yang menjadi program pokok seratus hari kerja presiden prabowo maka kementrian desa PDTT menyikapi dengan meluncurkan program ketahanan pangan yang di alokasikan menggunakan dana desa dengan besaran minimal 20% dari pagu anggaran dana desa yang digelontorkan pemerintah pusat melalui kementrian desa.

Kegiatan ketahanan pangan tersebut di khususkan untuk menopang program swasembada pangan, untuk menyikapi perubahan iklim yang ekstrim dan berakibat pada penurunan hasil pangan khususnya untuk pangan pokok. 

Berdasarkan dari hal tersebut diatas maka pemerintah kampung gedung karya jitu juga mengalokasikan dana ketahanan pangan senilai 20% dari pagu dana desa yaitu 250jt yang digunakan untuk modal Budi daya padi hibrida yang di kelola oleh BUMDES. 

Karena sesuai letak geografisn kecamatan Rawajitu Selatan khususnya kampung gedung karya jitu yang merupakan lahan gambut dan merupakan lumbung padi di kabupaten tulang bawang. Maka untuk kegiatan ketahanan pangan di gunakan untuk budidaya padi hibrida dengan sistem sewa lahan. 

Kenapa dipilih jenis padi hibrida karena memang jenis padi tersebut cocok dan sesuai dengan kondisi lahan gambut yang ada di wilayah persawahan di kampung gedung karya jitu sehingga diharapkan bisa mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan apa yang di harapkan dan di usahakan.

Untuk menunjang proses berjalan kegiatan ketahanan pangan khususnya budidaya padi hibrida kita selaku TPP melakukan fasilitasi dan advokasi untuk melakukan kerja sama dengan pihak terkait khususnya di bidang pertanian yaitu dari PPL pertanian kecamatan Rawajitu Selatan sebagai pembimbing dalam proses budidaya dan juga kepada Gapoktan Tan Poktan dalam bentuk kerjasama pengolahan lahan dan pemupukan. 

Potensi dari kegiatan ketahanan pangan budidaya padi hibrida yaitu 6-7ton per hektare dengan dua kali musim tanam, dan potensi penghasilan bruto per hektare adalah 35-40jt tergantung dari hasil panen dan nilai jual gabah yang berlaku dengan asumsi biaya operasional budidaya 8-10jt per hektare dan sewa lahan 20jt per tahun maka kegiatan budidaya padi hibrida ini bisa di asumsikan bisa mendapatkan penghasilan yang mencukupi yang hasilnya nanti bisa digunakan oleh bumdes sebagi hasil dan sebagai pendapatan asli kampung. walau pada musim kedua sering terkendala dengan datangnya air payau atau asin yang bisa mengganggu tumbuh kembang padi. Dan terkendala juga terbatas nya lahan garapan yg disewakan sehingga bisa menghambat proses budidaya sesuai dengan analisa usaha yang ada.

Itulah sekelumit perjalanan realisasi kegiatan ketahanan BUMDES kampung gedung karya jitu yang berusaha pada sektor budidaya padi hibrida. Saran dan masukan dari pembaca sekalian kami harapkan untuk kebaikan kami di kedepannya.

Terimakasih 

Tpp Rawajitu Selatan 

Afiat ihsani, ST.





Komentar